Laman

Kamis, 12 Agustus 2010

Tujuh Langit,,,,Seperti apakah itu?


Oleh : Whisnu Trie Seno Ajie




Kita mungkin sering mendengar ungkapan “Tujuh Lapis Langit”, tapi apakah kita tahu apa sebenarnya tujuh lapis langit itu? Banyak yang beranggapan bahwa langit ada tujuh lapis, mulai dari lapisan 1,2,3, dan sampai 7. Sah-sah saja ketika berfikiran seperti itu kalau memang kita belum mendapatkan buktinya mengenai bagaimana bentuk tujuh lapis langit tersebut. Nah, sedikit mengulas makna dari tujuh langit saya sebagai makhluk yang masih belajar berupaya menganalisis arti dari “tujuh langit” tersebut.
Jika meneliti dari sejarahnya, pada zaman dahulu (jauh sebelum Al-Qur’an ada) ditafsirkan bahwa lapisan-lapisan langit itu didasarkan atas konsep geosentris. Bumi sebagai pusat dari tata surya dianggap dikelilingi oleh benda-benda langit seperti bulan,matahari,dan planet-planet. Bulan sebagai objek langit yang paling dekat dengan bumi dianggap memiliki satu lapisan langit dan dijadikan lapisan langit pertama. Kemudian di lapisan langit kedua terdapat Merkurius, lapisan ketiga adalah Venus, lapisan keempat adalah Matahari, di susul di lapisan kelima,keenam,dan ketujuh adalah Mars,Jupiter,dan Saturnus. Benda-benda langit tersebut dianggap mempengaruhi kehidupan manusia dari waktu ke waktu secara bergantian dari mulai yang terjauh hingga terdekat.
Orang-orang dahulu (khususnya Romawi dan Yunani) juga percaya bahwa ketujuh benda langit itu adalah dewa-dewa yang mempengaruhi kehidupan di Bumi. Pengaruhnya bergantian dari jam ke jam dengan urutan mulai dari yang terjauh (menurut pengetahuan mereka) yaitu Saturnus, sampai yang terdekat yakni Bulan. Pada jam 00.00, Saturnuslah yang dianggap berpengaruh pada kehidupan manusia. Karena itu, hari pertama disebut Saturday (hari Saturnus) dalam bahasa Inggris, atau Sabtu dalam bahasa Indonesia. Ternyata, jika kita menghitung mundur hari sampai tahun 1 Masehi, tanggal 1 Januari tahun 1 memang jatuh pada hari Sabtu. Bila diurut selama 24 jam, pada jam 00.00 berikutnya jatuh pada matahari. Jadilah hari berikutnya sebagai hari matahari (Sunday, Nichyobi). Dan seterusnya. Hari-hari yang lain dipengaruhi oleh benda-benda langit yang lain. Secara berurutan hari-hari itu menjadi hari Bulan (Monday, getsuyobi, Senin), hari Mars (Kayobi, Selasa), hari Merkurius (Suiyobi, Rabu), hari Jupiter (Mokuyobi, Kamis), dan hari Venus (Kinyobi, Jum’at). Itulah asal mula satu pekan menjadi tujuh hari.
Pemahaman tentang tujuh langit sebagai tujuh lapis langit dalam konsep keislaman mungkin bukan sekadar pengaruh konsep geosentris lama, tetapi juga diambil dari kisah mi’raj Rasulullah SAW. Mi’raj adalah perjalanan dari masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha yang secara harfiah berarti ‘tumbuhan sidrah yang tak terlampaui’, suatu perlambang batas yang tak ada manusia atau makhluk lainnya bisa mengetahui lebih jauh lagi. Hanya Allah yang tahu hal-hal yang lebih jauh dari batas itu. Sedikit sekali penjelasan dalam Al-Qur’an dan hadits yang menerangkan apa, di mana, dan bagaimana sidratul muntaha itu.
Langit (samaa’ atau samawat) di dalam Al-Qur’an berarti segala yang ada di atas kita, yang berarti pula angkasa luar, yang berisi galaksi, bintang, planet, batuan, debu, dan gas yang bertebaran. Dan lapisan-lapisan yang melukiskan tempat kedudukan benda-benda langit sama sekali tidak dikenal dalam astronomi.
Ada yang berpendapat lapisan itu ada dengan berdalil pada QS 67:3 dan 71:15 sab’a samaawaatin thibaqaa. Tafsir Depag menyebutkan “tujuh langit berlapis-lapis” atau “tujuh langit bertingkat-tingkat”. Walaupun demikian, itu tidak bermakna tujuh lapis langit. Makna thibaqaa, bukan berarti berlapis-lapis seperti kulit bawang, tetapi (berdasarkan tafsir/terjemah Yusuf Ali, A. Hassan, Hasbi Ash-Shidiq, dan lain-lain) bermakna bertingkat-tingkat, bertumpuk, satu di atas yang lain.
“Bertingkat-tingkat” berarti jaraknya berbeda-beda. Walaupun kita melihat benda-benda langit seperti menempel pada bola langit, sesungguhnya jaraknya tidak sama. Rasi-rasi bintang yang dilukiskan mirip kalajengking, mirip layang-layang, dan sebagainya sebenarnya jaraknya berjauhan, tidak sebidang seperti titik-titik pada gambar di kertas.

Lalu apa makna tujuh langit bila bukan berarti tujuh lapis langit? Di dalam Al-Qur’an ungkapan ‘tujuh’ atau ‘tujuh puluh’ sering mengacu pada jumlah yang tak terhitung banyaknya. Dalam matematika kita mengenal istilah “tak berhingga” dalam suatu pendekatan limit, yang berarti bilangan yang sedemikian besarnya yang lebih besar dari yang kita bayangkan. Kira-kira seperti itu pula, makna ungkapan “tujuh” dalam beberapa ayat Al-Qur’an. Misalnya, di dalam Q.S. Luqman:27 diungkapkan, “Jika seandainya semua pohon di bumi dijadikan sebagai pena dan lautan menjadi tintanya dan ditambahkan tujuh lautan lagi, maka tak akan habis Kalimat Allah.” Tujuh lautan bukan berarti jumlah eksak, karena dengan delapan lautan lagi atau lebih kalimat Allah tak akan ada habisnya.
Jadi, ‘tujuh langit’ semestinya difahami pula sebagai benda-benda langit yang tak terhitung banyaknya, bukan sebagai lapisan-lapisan langit.
Bagaimana dengan makna langit pertama, ke dua, sampai ke tujuh dalam kisah mi’raj Rasulullah SAW? Muhammad Al-Banna dari Mesir menyatakan bahwa beberapa ahli tafsir berpendapat Sidratul Muntaha itu adalah Bintang Syi’ra, yang berarti menafsirkan tujuh langit dalam makna fisik. Tetapi sebagian lainnya, seperti Muhammad Rasyid Ridha (juga dari Mesir), berpendapat bahwa tujuh langit dalam kisah Isra’ & Mi’raj adalah langit gaib.

Daftar Pustaka : Djamaluddin,T http://tdjamaluddin.wordpress.com

0 comments:

Template by - Abdul Munir | Daya Earth Blogger Template