Laman

Kamis, 17 April 2014

Turaihan Adjhuri, Ahli Astronomi dari Kota Kretek



Menyebut Kabupaten Kudus, rasanya banyak orang mengenalnya, termasuk warga luar Jawa Tengah dan beberapa negara sahabat, mengingat dari kota ini lahir dua tokoh besar penyebar agama Islam di Nusantara, yang terkenal dengan sebutan Walisongo, yakni Syekh Ja’far Shadiq (Sunan Kudus) dan Syekh Raden Umar Said (Sunan Gunung Muria). Dari aspek ekonomi, kota ini juga terkenal dengan sebutan Kota Kretek karena memiliki banyak pabrik rokok kretek mulai skala kecil sampai besar, seperti Djarum, Sukun, Nojorono, dan banyak lagi. Bahkan sekitar 70 persen warga Kudus mencari rezeki di pabrik-pabrik itu. Kudus juga terkenal dengan jenangnya, produsennya lengkap dari skala kecil level lokal sampai besar level internasional, seperti Jenang Mubarok.

Namun sepertinya masih ada yang tertinggal dalam pengetahuan masyarakat luar Kudus, yakni karya monumental dari tokoh religi, dan karya itu sampai sekarang masih digunakan sebagai pedoman dan panduan merancang, menentukan, dan melaksanaan kegiatan sehari-hari. Peninggalan besar itu adalah Kalender / Almanak Menara Kudus yang disusun oleh tokoh ilmu falak (astronom) Turaichan Adjuri Asy-Syarofi atau Mbah Tur (lahir di Kudus 22 Rabi’ul Akhir 1334 H atau 10 Maret 1915 M). Beliau merupakan salah satu keturunan Sunan Kudus.

Almanak Menara Kudus merupakan kalender yang sejak awal dicetak sampai sekarang selalu menghiasi dinding ruang masyarakat Kudus, dan beberapa daerah lain, terutama di rumah tokoh masyarakat. Hal itu mengingat almanak tersebut merupakan salah satu kalender yang bisa menjadi rujukan menentukan hari ataupun tanggal sebelum orang mengawali suatu kegiatan yang dianggapnya penting.

Lebih-lebih menjelang Ramadan dan Idul Fitri, karena masyarakat muslim pasti mencari pedoman kapan memulai dan mengakhiri bulan Ramadan. Kita semua mengetahui bahwa ada perbedaan dalam menentukan jatuhnya Idul Fitri. Sejatinya, masyarakat bisa mencari pedomannya di almanak tersebut, sekaligus menemukan kemantapan karena perhitungan kelender itu sesuai dengan aturan Islam dan cocok dengan pedoman sains.

Almanak itu merupakan hasil kombinasi antara hisab qath’i yang menggunakan sistem logaritma dan teori ilmu falak yang ada dalam buku Mathla’us Said karya Syekh Husein Zaid al-Misro dari Mesir, Badiatul Mitsal, Khulasatul Wafiyah, yang kemudian diselaraskan dengan pemikiran Mbah Tur.

Memanfaatkan Data

Kalender itu juga menjadi rujukan untuk menentukan awal bulan Hijriah lainnya seperti peringatan hari kematian, kelahiran Nabi Muhammad, Isra’ Mi’raj, karena di dalamnya memuat penanggalan Hijriah. Bahkan kalender itu memuat perhitungan tanggal terjadinya gerhana bulan dan matahari sehingga masyarakat tetap bisa memanfaatkan data itu untuk melihat salah satu keindahan fenomena alam.

Almanak tersebut juga bisa digunakan sebagai rujukan oleh orang Jawa sebagai petung  terkait hajatan perkawinan, mengawali menempati rumah baru dan sebagainya. Hal itu sangat beralasan karena di dalamnya juga menyertakan penanggalan Jawa, dan juga China sehingga etnis China pun bisa memanfaatkannya.

Dalam praktiknya sampai sekarang, tidak sedikit petani yang memanfaatkan kalender itu untuk menentukan awal kegiatannya bersawah atau berladang. Ibaratnya, mereka menggunakan almanak itu sebagai pranatamangsa (petunjuk alam) untuk menentukan waktu menyebar bibit, memupuk, dan memanen.

Karena itu, banyak ahli astronomi modern mengakui dan menganggap peninggalan Mbah Tur tersebut sangat komprehensif, lebih maju dari zamannya. Sepeninggalnya Mbah Tur tahun 1999, pengelolaan almanak ini dilanjutkan oleh putranya, Drs. Sirril Wafa, MA dengan dasar perhitungan dan desain sistematikanya yang selalu terjaga. (P1)

Read More......

2014 Tahun yang Ramai


Jika Republik Indonesia disibukkan dengan ramainya pemilu, Brazil disibukkan dengan piala dunia, kalangan astronom disibukkan dengan ramainya agenda langit. Agenda langit kali ini bukanlah seperti dalam film Kera Sakti yang menggambarkan langit diisi oleh para Dewa Kayangan. Astronom tidak membahas hal tersebut. Agenda langit kali ini adalah banyaknya kesempatan bagi kehidupan cerdas di planet bumi. Fenomena alam yang membuat para astronom sangat antusias menanti memang tidak memengaruhi kehidupan sosial di planet bumi, merubah nilai kurs mata uang misalnya. Akan tetapi, fenomena alam memberi kesempatan bagi siapa saja yang ada di planet bumi untuk memahami cara kerja mereka –benda langit.


Fenomena oposisi planet lain terhadap planet Bumi membuka kesempatan bagi astronom untuk melihat lebih dekat planet-planet lain. Memang tidak seberapa selisihnya, namun hal ini sangat membantu pengamatan yang dilakukan dari planet bumi. Di tahun ini, oposisi Jupiter telah terjadi pada 5 Januari lalu. Memasuki April, tepatnya 8 April, Mars juga beroposisi. Tidak hanya itu, pada 10 Mei mendatang, Saturnus pun tidak mau kalah untuk turut beroposisi. 29 Agustus kemudian, Neptunus juga beroposisi. Lalu ditutup dengan oposisi Uranus pada 7 Oktober mendatang. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa semua planet luar dari sistem tata surya, ditahun ini beroposisi terhadap bumi.

Istilah oposisi dalam astronomi berlaku bagi planet luar, yaitu Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus. Ketika planet beroposisi terhadap bumi, planet bumi-matahari-planet lain berada pada satu garis lurus dan sudut yang dibentuk oleh planet lain dan bumi, dengan matahari sebagai pusatnya, adalah 1800. Hal ini membuat posisi planet sedikit lebih dekat dengan bumi. Orbit setiap planet yang tidak sepenuhnya membentuk lingkaran, dan cenderung berbentuk elips, memang membuat planet tidak selalu memiliki jarak yang sama terhadap bumi. Ada saatnya planet memiliki jarak terdekat dengan bumi, ada juga saatnya memiliki jarak terjauh. Pada saat jarak terdekat inilah kesempatan emas untuk melihat lebih dekat.

Selain fenomena oposisi, tahun 2014 juga diramaikan dengan fenomena lain. Berikut fenomena alam yang diprediksi akan meramaikan tahun 2014 ini. Fenomena dibawah ini terhitung mulai 16 April 2014. Sekedar prediksi memang tidak cukup karena masih harus dibuktikan melalui pengamatan langsung.

Hujan meteor Lyrid (21-22 April 2014)
Hujan meteor Lyrid akan muncul di rasi bintang Lyra. Akan mencapai puncaknya pada 21-22 April 2014. Intensitasnya 20 meteor per jam.

Bulan Baru (29 April 2014)
Bulan akan berada di antara Bumi dan Matahari, bukan tidak akan terlihat dari Bumi. Fase ini akan berlangsung pada 13:14 WIB.

Gerhana Matahari Cincin (29 April 2014)
Akan terjadi Gerhana Matahari Sebagian (GMS). GMS hanya akan terlihat di Antartika. GMS terjadi saat Bulan berada di antara Matahari dan Bumi.

Hujan meteor Eta Aquarid (5-6 Mei 2014)
Hujan meteor Eta Aquarid akan mencapai puncaknya pada 5-6 Mei 2014. Intensitasnya 10 meteor per jam dan akan muncul di rasi bintang Aquarius.

Oposisi Saturnus (10 Mei 2014)
Saturnus dan Bumi akan berada pada jarak terdekat masing-masing. Walupun dekat, Saturnus hanya akan muncul bagai bintang saja. Matahari-Bumi-Saturnus berada dalam satu garis lurus.

Bulan Purnama (14 Mei 2014)
Bumi akan berada di antara Matahari dan Bulan, membuat manusia di Bumi bisa melihat Bulan disinari penuh oleh Matahari.

Bulan Baru (28 Mei 2014)
Bulan akan berada di antara Bumi dan Matahari, ia tidak akan terlihat dari Bumi. Fase ini akan berlangsung pada 01:40 WIB.

Konjungsi Mars dan Bulan (7 Juni 2014)
Bulan dan Planet Mars akan berjarak 2 derajat saja di langit, bisa diamati di langit senja Bumi.

Bulan Purnama (13 Juni 2014)
Bumi akan berada di antara Matahari dan Bulan, membuat manusia si Bumi bisa melihat Bulan disinari penuh oleh Matahari.

Bulan Baru (27 Juni 2014)
Bulan akan berada di antara Bumi dan Matahari, ia tidak akan terlihat dari Bumi. Fase ini akan berlangsung pada 15:08 WIB.

Bulan Purnama (12 Juni 2014)
Bumi akan berada di antara Matahari dan Bulan, membuat manusia di Bumi bisa melihat Bulan disinari penuh oleh Matahari.

Bulan Baru (26 Juli 2014)
Bulan akan berada di antara Bumi dan Matahari, ia tidak akan terlihat dari Bumi. Fase ini akan berlangsung pada 05:42 WIB.

Hujan Meteor Delta Aquarid Selatan (28-29 Juli 2014)
Akan ada 20 meteor per jam dan terjadi di rasi bintang Aquarius.

Bulan Purnama (10 Agustus 2014)
Bumi akan berada di antara Matahari dan Bulan, membuat manusia si Bumi bisa melihat Bulan disinari penuh oleh Matahari.

Hujan Meteor Perseid (12-13 Agustus 2014)
Hujan meteor Perseid akan muncul 60 meteor per jam. Muncul di rasi bintang Perseus.

Konjungsi Venus dan Jupiter (18 Agustus 2014)
Venus dan Jupiter akan berdekatan di langit Barat saat senja.

Bulan Baru (25 Agustus 2014)
Bulan akan berada di antara Bumi dan Matahari, ia tidak akan terlihat dari Bumi. Fase ini akan berlangsung pada 21:14 WIB.

Oposisi Neptunus (29 Agustus 2014)
Neptunus dan Bumi akan saling berdekatan satu sama lain, walaupun dekat kita tidak akan bisa melihat Neptunus karena terlalu redup. Matahari-Bumi-Neptunus satu garis lurus.

Bulan Purnama (9 September 2014)
Bumi akan berada di antara Matahari dan Bulan, membuat manusia si Bumi bisa melihat Bulan disinari penuh oleh Matahari.

Bulan Baru (24 September 2014)
Bulan akan berada di antara Bumi dan Matahari, ia tidak akan terlihat dari Bumi.

Oposisi Uranus (7 Oktober 2014)
Uranus dan Bumi akan saling berdekatan satu sama lain, walaupun dekat kita tidak akan bisa melihat Uranus karena terlalu redup. Matahari-Bumi-Uranus satu garis lurus.

Bulan Purnama (8 Oktober 2014)
Bumi akan berada di antara Matahari dan Bulan, membuat manusia si Bumi bisa melihat Bulan disinari penuh oleh Matahari.

Gerhana Bulan Total (8 Oktober 2014)
Saat Bulan Purnama pada Oktober 2014, Bulan akan digerhana Bumi. Fenomena ini akan terlihat di Utara dan Selatan Amerika, Asia Timur, Australia, dan Selandia Baru.

Hujan meteor Orionid (21-22 Oktober 2014)
Hujan meteor Orionid akan muncul di rasi bintang Orion, akan ada 25 meteor per jamnya.

Bulan Baru (23 Oktober 2014)
Bulan akan berada di antara Bumi dan Matahari, ia tidak akan terlihat dari Bumi.

Gerhana Matahari Cincin (23 Oktober 2014)
Gerhana Matahari Cincin ini akan terjadi di Utara Amerika saja. Ini terjadi saat Bulan berada di antara Matahari dan Bumi.

Bulan Purnama (6 November 2014)
Bumi akan berada di antara Matahari dan Bulan, membuat manusia si Bumi bisa melihat Bulan disinari penuh oleh Matahari.

Hujan meteor Leonid (17-18 November 2014)
Hujan meteor Leonid akan terjadi di rasi bintang Leo. Intensitasnya 20 meteor per jam.

Bulan Baru (22 November 2014)
Bulan akan berada di antara Bumi dan Matahari, ia tidak akan terlihat dari Bumi.

Bulan Purnama (6 Desember 2014)
Bumi akan berada di antara Matahari dan Bulan, membuat manusia di Bumi bisa melihat Bulan disinari penuh oleh Matahari.

Hujan meteor Geminid (13-14 Desember 2014)
Hujan meteor Geminid adalah hujan meteor terbaik tahun 2014 ini. Ia akan mencapai pucaknya pada 13-14 Desember 2014. Akan ada 60-80 meteor per jam. Akan muncul di rasi bintang Gemini.

Bulan Baru (22 Desember 2014)
Bulan akan berada di antara Bumi dan Matahari, ia tidak akan terlihat dari Bumi.

(P1)

Read More......

Rabu, 16 April 2014

Selamat Menempuh Hidup Baru Nova



Rabu 16 April 2014 adalah jadwal wisuda di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Rasa lelah selama beberapa semester mengikuti kuliah ditutup dengan seremonial yang indah. Begitu juga dengan punggawa Cakrawala. Hari ini, Cakrawala kehilangan 4 Bintang yang berubah menjadi Nova. Sedikit penjelasan, di Cakrawala dikenal 4 kasta, Nebula, Bintang, Nova, dan Supernova. Nebula adalah sebutan bagi semua calon anggota Cakrawala yang harus mengikuti alur kederisasi untuk bisa berstatus sebagai bintang. Bintang adalah sebutan bagi Nebula yang sudah lulus dari kaderisasi. Anggota Cakrawala disebut Bintang ketika statusnya masih aktif sebagai mahasiswa Pendidikan Fisika FPMIPA UPI. Sementara bagi anggota yang lulus, disebut sebagai Nova. Untuk Super Nova sendiri adalah sebutan khusus bagi founding parents Cakrawala. Disebut founding parents karena tidak semua Super Nova adalah pria, ada wanita juga.

Setiap angkatan Cakrawala, memiliki nama sendiri. Pemberian nama menggunakan istilah astronomi dan kebumian dengan kesepakatan diantara mereka. Biasanya nama angkatan bertepatan dengan momen besar yang terjadi ketika tahun angkatan mereka. Untuk kali ini, Nova berasal dari Canopus 38. Hanya tiga angkatan saja yang semua anggota masih berstatus Bintang, yaitu Altair, Cumulus 75, dan Phoneix. Bintang dari Canopus 38 yang telah berevolusi menjadi Nova adalah: Dwie Yulis Handayani, Dini Andriani, Luthfiandari, dan Yeyen Ma’rajati.

Meski sudah berstatus sebagai Nova, mereka masih diakui sebagai anggota. Mereka masih bisa memberikan segala masukan kepada Cakrawala. Dengan berstatus Nova, mereka bahkan sangat diharapkan untuk membawa Cakrawala lebih dikenal kalangan luar. Kepada kakak-kakak yang telah menjadi Nova, kami para Bintang di Cakrawala mengucapkan: Selamat menempuh hidup baru. Semoga segala tantangan dapat ditaklukan untuk mencapai cita-cita individual dan sosial. (P1)

Read More......
Template by - Abdul Munir | Daya Earth Blogger Template