Laman

Sabtu, 18 Oktober 2014

Persamaan Drake





Persamaan Drake sebetulnya bukan benar-benar sebuah persamaan, melainkan serangkaian perkiraan yang membantu kita untuk memperkirakan berapa banyak peradaban makhluk cerdas yang mempunyai kemampuan untuk berkomunikasi, yang mungkin ada di galaksi kita. Formula itu dibuat pada tahun 1961 oleh Dr. Frank Drake dari Institut SETI (kependekan dari Search for Extraterrestial Intelligent, atau Pencarian Peradaban Cerdas Luar Bumi), dan masih dipakai oleh para ilmuwan sampai sekarang.

Berikut persamaan Drake:
N = N* x fp x ne x fl x fi x fc x L

N* adalah jumlah bintang baru yang dilahirkan setiap tahun di galaksi Bimasakti. Galaksi Bimasakti berusia sekitar 12 miliar tahun, dan berisi kira-kira 300 miliar bintang. Jadi, rata-rata, bintang dilahirkan dengan kecepatan 300 miliar dibagi 12 miliar = 25 bintang per tahun.

fp adalah persentase dari bintang-bintang itu yang memiliki planet yang beredar mengelilinginya. Perkiraan saat ini berkisar antara 20 sampai 70 persen.

ne adalah jumlah planet per bintang yang kondisinya bisa mendukung adanya kehidupan. Perkiraan saat ini berkisar antara 1 sampai 5.

fl adalah persentase dari fl di mana makhluk hidup cerdas berevolusi. Perkiraan saat ini berkisar antara 100 persen (di mana kehidupan bisa berevolusi, kehidupan akan berevolusi) sampai mendekati 0 persen.

fi adalah persentase dari fl di mana makhluk hidup cerdas berevolusi. Perkiraan berkisar dari 100 persen (makhluk cerdas memiliki keunggulan dalam hal kelangsungan hidup, sehingga akan berevolusi) sampai sekecil hampir 0 persen.

fc adalah persentase dari fi yang berkomunikasi. Perkiraan makhluk hidup cerdas yang memiliki cara dan kemauan untuk berkomunikasi berkisar antara 10 sampai 20 persen.

L adalah angka rata-rata banyaknya tahun di mana peradaban yang berkomunikasi bisa mempertahankan kelangsungan hidupnya. Ini adalah bagian paling sulit untuk diperkirakan. Kalau kita memakai Bumi sebagai contoh, kita telah berkomunikasi dengan menggunakan gelombang radio selama kurang dari 100 tahun. Untuk seberapa lama peradaban kita bisa bertahan, bisa jadi tinggal beberapa tahun ke depan atau bisa saja bertahan selama 10.000 tahun atau lebih.

Setelah semua variabel itu dikalikan satu sama lain, akan kita dapatkan:
N, yaitu jumlah dari peradaban yang berkomunikasi di galaksi.

Untuk ulasan lengkapnya, silahkan unduh berkas melalui tautan berikut:
http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._FISIKA/197703312008121001-JUDHISTIRA_ARIA_UTAMA/Publikasi/PENCARIAN%20RUMAH%20BARU%20DI%20LUAR%20BUMI.pdf
 

Read More......

Jumat, 17 Oktober 2014

Bocah 12 Tahun Rancang Robot Pembasmi Malaria





Tak hanya mengganggu, nyamuk juga disebut sebagai hama yang dapat membunuh manusia secara massal. Itulah mengapa bocah 12 tahun bernama David Cohen ini menciptakan sebuah robot pembasmi malaria.

Cara kerja robot buatan Cohen adalah dengan menenggelamkan nyamuk malaria dengan sistem pompa jet di bawah air menggunakan jala. Cohen menuturkan, ia mendapat ide untuk membuat robot ini setelah keluarganya sendiri terjangkit penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk.

"Adikku terkena infeksi yang sangat buruk akibat gigitan nyamuk. Tubuhnya merasa kesakitan dan nyaris tidak bisa berjalan. Ia mengalami hal itu selama beberapa minggu dan akhirnya sembuh setelah mengonsumsi antibiotik," kata Cohen kepada Huffington Post, Jumat (17/10/2014).

"Malaria adalah penyakit yang ditularkan melalui nyamuk, membunuh sekitar 627 ribu orang setiap tahun - terutama di negara berkembang dari sub-Sahara Afrika," terang bocah asal Texas, Amerika Serikat itu.

Berkat karya inovatifnya itu Cohen berhasil menjadi finalis Discovery Education 3M Young Scientist Challenge. Kompetisi bergengsi ini melibatkan sejumlah pelajar sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP).

Dikutip dari:
http://tekno.liputan6.com/read/2120046/bocah-12-tahun-rancang-robot-pembasmi-malaria

Read More......

Minggu, 12 Oktober 2014

Buku A Brief History of Time



Stephen Hawking pertama kali mendapat gagasan menulis buku populer mengenai alam semesta pada 1982. Tujuannya antara lain untuk membayar sekolah anak perempuannya –meski ketika buku tersebut terbit, anaknya sudah pada tahun terakhir sekolah. Namun tujuan utamanya adalah ia ingin menjelaskan sudah sejauh apa pemahaman manusia mengenai alam semesta. Ia ingin seluruh umat manusia tanpa terkecuali, tak hanya kalangan ilmuwan ilmu alam saja, bisa merasakan perkembangan pemahaman manusia atas alam semesta.

Hawking ingin jika ia meluangkan waktu untuk menulis sebuah buku, maka ia ingin buku itu dibaca orang sebanyak mungkin. Sebelumnya ia sudah menerbitkan buku-buku tetapi belum bisa memasuki pasaran umum. Buku-buku lawas Hawking biasanya diterbitkan oleh Cambridge University Press. Karena merasa Cambridge University Press tak bisa membantunya memenuhi hasrat masuk ke pasaran umum, ia pun menghubungi agen penerbitan, Al Zuckerman, yang dikenalnya sebagai ipar dari salah seorang kolega Hawking. Hawking memberikan draf bab pertama pada Zuckerman dan menjelaskan bahwa ia ingin bukunya menjadi buku yang laku di pasaran umum. Zuckerman saat itu bilang mustahil. Dengan draf tersebut, Zuckerman mengatakan kalau buku tersebut hanya laku di kalangan akademisi saja dan tak bisa masuk pasaran umum.

Hawking memberikan draf pertama itu pada Zuckerman pada tahun 1984. Zuckerman mengirimnya ke beberapa penerbit dan menyarankan pada Hawking untuk menerima tawaran dari Norton, penerbit buku Amerika yang lumayan besar. Tapi Hawking justru memutuskan menerima tawaran dari Bantam Books, penerbit yang lebih berorientasi ke pasaran umum. Meski Bantam Books tak memiliki rekam jejak sebagai penerbit buku sains, tetapi buku-buku terbitan Bantam Books mudah dijumpai di pasaran.

Hawking menduga kalau ketertarikan Bantam terhadap draf bukunya dimulai dari salah seorang penyuntingnya, Peter Gazzuardi. Gazzuardi sangat serius dengan pekerjaannya dan memaksa Hawking melakukan banyak perbaikan terhadap naskahnya agar bisa dimengerti pembaca umum yang bukan ilmuwan seperti Gazzuardi. Setiap Hawking mengirimkan naskah perbaikan, Gazzuardi mengirim balik naskah tersebut dengan disertai daftar panjang berisi kritikan dan pertanyaan yang harus Hawking jawab. Hawking hampir menyerah dan merasa proses tersebut tak akan berakhir. Tapi Hawking tetap melanjutkan upaya penerbitan buku tersebut karena merasa dengan bantuan Gazzuardi, bukunya menjadi jauh lebih baik.

Hawking menulis naskah buku tersebut dalam keadaan menderita sakit pneumonia (penyakit radang paru-paru) yang menyerangnya. Mungkin mustahil menyelesaikan buku tersebut kalau tak ada program komputer yang diberikan padanya. Program komputer yang membantunya berkomunikasi tersebut sebenarnya bekerja dengan lambat tetapi Hawking merasa cocok karena ia menyatakan dirinya lambat berpikir. Dengan program tersebut, ia menulis ulang nyaris seluruh draf untuk menanggapi Gazzuardi. Ketika memperbaiki naskah tersebut, Hawking dibantu salah seorang mahasiswanya, Brian Whitt.

Awalnya Hawking sangat terkesan dengan serial televisi yang berjudul The Ascent Man. Serial itu memberi gambaran mengenai prestasi umat manusia dalam berkembang dari keadaan biadab primitif lima belas ribu tahun lalu ke keadaan sekarang. Hawking ingin menyampaikan gambaran yang sama mengenai perkembangan pemahaman manusia atas hukum-hukum alam semesta. Ia yakin hampir semua orang tertarik dengan cara kerja alam semesta, tapi kebanyakan orang tak bisa mengikuti persamaan-persamaan matematika. Hawking pun kurang peduli dengan persamaan matematika. Selain karena sulit menulisnya –ia menulis dibantu program komputer- juga karena ia kurang peka dengan persamaan matematika. Dengan menghindari menuliskan persamaan matematika, ia ingin semua orang bisa merasakan perkembangan luar biasa yang telah terjadi dalam fisika selama lima puluh tahun terakhir.

Meski sudah berusaha menghindari persamaan matematika, beberapa gagasan tetap sulit dijelaskan. Timbul masalah: Apakah ia harus menjelaskan dengan risiko membingungkan orang, atau ia lewatkan saja pembahasan tersebut? Sebagian konsep ia sebutkan tanpa membahas panjang lebar tetapi sebagian konsep yang lain tetap ia sampaikan dengan lengkap.

Ada dua konsep sukar yang tetap ia jelaskan panjang lebar. Pertama adalah jumlahan sejarah (sum over histories). Inilah gagasan bahwa sejarah alam semesta tak hanya satu. Sebaliknya, ada kumpulan berisi semua kemungkinan sejarah alam semesta, dan semua sejarah itu sama-sama nyata –apapun artinya. Kedua adalah waktu khayal (imaginary time), yang diperlukan untuk mengerti jumlahan sejarah secara matematis. Ia kemudian baru sadar bahwa seharusnya ia dulu berusaha lebih keras dalam menjelaskan dua konsep sangat sulit itu, terutama waktu khayal, yang tampaknya merupakan bagian yang paling sulit dalam buku. Namun untuk kalangan non-ilmuwan, tak perlu mengerti dengan pasti apa waktu khayal itu, yang penting tahu bahwa waktu khayal berbeda dengan waktu nyata (real time).

Ketika buku itu akan terbit, seorang ilmuwan yang diberi edisi awal untuk diresensi di majalah Nature terkejut karena bukunya penuh dengan kesalahan, dengan foto-foto dan diagram-diagram yang salah tempat dan salah keterangan. Sang ilmuwan tersebut kemudian menghubungi Bantam, yang juga terkejut dan langsung memutuskan menghentikan pencetakan. Bantam menghabiskan tiga pekan yang intens untuk mengoreksi dan memeriksa kembali keseluruhan buku dan buku itu pun siap muncul di toko buku pada 1 April 1988, momen April Mop. Ketika itu, majalah Time sudah menerbitkan artikel profil Hawking.

Meski sempat melakukan kesalahan, Bantam terkejut dengan gencarnya permintaan atas buku Hawking tersebut. A Bries History of Time berada di daftar buku laris New York Times selama 147 pekan dan daftar buku laris Times London selama 237 pekan yang kemudian memecahkan rekor. Buku tersebut dialihbahasakan ke dalam 40 bahasa, termasuk bahasa Indonesia, dan telah terjual lebih dari 10 juta eksemplar di seluruh dunia. Nathan Myhrvold dari Microsoft yang notabene peneliti pascadoktoral di bawah bimbingan Hawking menyatakan bahwa buku fisika yang Hawking jual lebih banyak daripada buku seks yang Madonna jual. Tetapi Hawking menyatakan bahwa penjualan bukunya belum bisa mengalahkan buku karya William Shakespeare.

Judul asli yang Hawking buat untuk buku tersebut awalnya adalah From the Big Bang to Black Holes: A Short History of Time. Tetapi Gazzuardi menukar bagian depan dan belakang judul tersebut dan mengubah Short menjadi Brief. Langkah yang jenius dari sang penyunting dan turut berperan besar dalam kesuksesan buku tersebut. Ada banyak buku lain berjudul “brief history” setelah terbitnya buku A Brief History of Time. Menurut Hawking, peniruan adalah bentuk pujian paling jujur.

Dalam edisi pertama yang sudah diperbaiki tersebut, Hawking tidak menulis kata pengantar. Kata pengantar dalam edisi perdana ditulis oleh Carl Sagan. Hawking, dalam edisi tersebut hanya menuliskan “Ucapan Terima Kasih” yang diucapkan kepada semua orang.

Keberhasilan A Brief History of Time menembus pasar umum menunjukkan bahwa ada minat dari masyarakat luas terhadap pertanyaan-pertanyaan seperti: Dari mana kita datang? Dan mengapa alam semesta seperti ini adanya?

Dalam edisi-edisi berikutnya, Hawking menambahkan bab baru mengenai lubang cacing (wormholes) dan perjalanan lintas waktu. Ia juga menjabarkan perkembangan yang dicapai akhir-akhir ini dalam menemukan “dualitas” atau korespondensi antara teori-teori fisika yang tampak berbeda. Korespondensi ini merupakan pertanda kuat bahwa kesatuan teori fisika yang lengkap itu ada, tapi juga memberi kesan bahwa boleh jadi teori itu mustahil dijabarkan dalam satu rumus dasar saja.

Setelah A Brief History of Time, Hawking kembali menulis sendiri buku-buku lain yang menjelaskan sains kepada masyarakat umum. Buku-buku tersebut adalah Black Holes and Baby Universe and Other Essays, The Illustrated A Brief History of Time, dan The Universe in a Nutshell. Ia berpikir masyarakat perlu punya pemahaman dasar sains agar bisa membuat keputusan yang cerdas dalam dunia yang makin ilmiah dan penuh teknologi. Lucy, buah hati kedua Hawking dari istri pertama, Jane, juga mengikuti jejak sang bapak dengan berkolaborasi bersama bapaknya menulis seri buku “George”, cerita petualangan sains untuk anak-anak, orang-orang dewasa masa depan. Buku-buku yang ditulis duet Hawking dan Lucy yang sudah terbit adalah George’s Secret Key to the Universe, George’s Cosmic Treasure Hunt, George and the Big Bang. Selain itu ada juga George’s and the Unbreakable Code dan George and the Space Prospectors, buku hasil kolaborasi mereka yang tak lama lagi akan diterbitkan. Selain berkolaborasi dengan Lucy, ia juga berkolaborasi dengan koleganya, Leonard Mlodinow, dan membuahkan karya berjudul A Briefer History of Time, dan The Grand Design. Ia juga telah menulis autobiografinya yang diberi judul My Brief History.

Di Indonesia, buku-buku Hawking biasa dialihbahasakan oleh Zia Anshor dan diterbitkan oleh penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama. Harga buku-buku Hawking versi bahasa Indonesia tak lebih dari seratus ribu rupiah.

Read More......
Template by - Abdul Munir | Daya Earth Blogger Template