Laman

Sabtu, 22 November 2014

Kisah Cinta Stephen Hawking





Tubuh yang lumpuh membuat Stephen Hawking lebih mudah dikenal daripada fisikawan lain. Meski sumbangannya terhadap perkembangan Fisika tak bisa dipandang sebelah mata, tetapi faktor penampilan lah yang kemungkinan besar membuatnya lebih terkenal. Sebelum Hawking, Foto Einstein dengan rambut acak-acakan lebih “menarik” daripada Niels Bohr yang tampil rapi meskipun mereka hidup sezaman dan sama-sama memberikan sumbangan besar bagi perkembangan Fisika. Wajah Paul A.M. Dirac dan Richard P. Feynman yang tampil rapi justru kurang dikenal publik meskipun sumbangan yang mereka berikan tak kalah dengan Einstein dan Hawking.

Meski penampilan fisik Hawking jauh dari penampilan manusia “normal”, tetapi ia juga memiliki kisah yang biasa dialami manusia “normal”, cinta. Belum jelas apakah Hawking pernah tertarik dengan perempuan ketika remaja atau tidak meski ketika tinggal di St. Albans ia sekolah di High School for Girls. Yang jelas ia pernah dua kali menikah.

Pernikahan pertama Hawking terjadi pada tahun 1965. Sebelumnya, ia sudah “jadian” dengan perempuan bernama Jane Wilde. Jane adalah perempuan yang pertama kali ia temui pasca didiagnosis ALS (Amyotrophic lateral sclerosis/sklerosis lateral amiotropik). Yaitu penyakit syaraf motorik yang menyerang sel syaraf pengendali otot, menyebabkan tubuh lumpuh secara bertahap dan otot mengalami atrofi (penyusutan atau pengecilan ukuran suatu sel, jaringan, organ, atau bagian tubuh) dan kejang-kejang.

Pasca “jadian” tersebut, mereka tak langsung menikah. Hawking belum memiliki pekerjaan dan masih harus menyelesaikan kuliah Ph.D. Untuk membiayai diri selama belajar, ia mengejar beasiswa riset di Gonville and Caisu College, satu akademi dalam University of Cambridge. Hawking tampak sangat termotivasi untuk mengejar beasiswa yang akhirnya bisa didapatkan tersebut. Usai memperoleh beasiswa itu, ia langsung menikah dengan Jane pada Juli 1965. Mereka berbulan madu selama satu pekan di Suffolk sebelum Hawking mengikuti kelas musim panas relativitas umum di Cornell University. Ketika baru menikah, Jane adalah mahasiswi strata satu di Westfield College, London. Jane harus pergi dan pulang dari Cambridge ke London pada hari kuliah.

Anak pertama Hawking dan Jane, Robert, lahir dua tahun pasca pernikahan mereka. Tak lama sesudah kelahiran Robert, Hawking dan Jane membawa Robert ke pertemuan sains di Seattle, Amerika Serikat. Kondisi fisik Hawking yang semakin lumpuh membuat Jane harus menangani sendiri sampai kecapekan. Kecapekan Jane bertambah dengan perjalanan pulang dari Amerika Serikat. Anak kedua mereka, Lucy, lahir sekitar tiga tahun kemudian. Selama Jane hamil Lucy, mereka tinggal di pondok milik teman karena rumah mereka sedang di renovasi. Mereka kembali ke rumah sendiri beberapa hari sebelum kelahiran Lucy yang terjadi di rumah sakit bersalin.

Jane yang memprediksi Hawking bakal cepat mati langsung melakukan langkah “antisipasi”. Jane bertemu dengan Jonathan Jones, seorang pemain organ di gereja Corsica, kota tempat Hawking mengajar di kelas musim panas. Jelas ini bukanlah sekedar pertemuan. Jane mengajak Jonathan untuk tinggal di rumah bersama mereka untuk membantu keperluan sehari-hari Jane dan Hawking. Hawking yang juga merasakan akan cepat mati pun “mengijinkan” Jonathan.

Maksud hati membantu Jane agar tak terlalu repot, justru Jane dan Jonathan semakin dekat. Hawking tak suka dengan hubungan Jane dan Jonathan yang semakin akrab. Karena itu, ia pun memilih “pisah ranjang” dengan Jane dan pindah ke tempat tinggal lain bersama seorang perawatnya, Elaine Mason. Saat itu, Elaine adalah janda dengan dua putra. Tempat tinggal yang terlalu sempit bagi Hawking, dan Elaine beserta dua putranya, membuat mereka memutuskan untuk pindah tempat tinggal lagi. Mereka membeli sepetak tanah di Newnham dan membangun rumah yang ramah kursi roda di sana.

Kedekatan Hawking dan Elaine berujung pada pernikahan mereka yang terjadi pada tahun 1995. Sembilan bulan kemudian, Jane juga mengikuti langkah Hawking setelah menikah dengan Jonathan. Pernikahan Hawking dan Elaine bak gelombang sinusoidal, banyak naik turunnya. Tapi keahlian Elaine sebagai perawat turut menyelamatkan nyawa Hawking berkali-kali. Elaine lah yang meyakinkan para dokter di Addenbrooke’s Hospital di Cambridge untuk melakukan operasi laringektomi. Operasi laringektomi adalah operasi yang memisah tenggorokan dan kerongkongan. Operasi ini dilakukan setelah tenggorokan Hawking yang dipasangi tabung plastik yang mencegah makanan dan air liur masuk paru-parunya mengalami gangguan. Gangguan tersebut berupa tekanan cincin balon yang menahan tabung plastik tersebut merusak tenggorokan Hawking dan membuatnya batuk-batuk dan tersedak.

Beberapa tahun kemudian Hawking mengalami krisis kesehatan lagi setelah kadar oksigen tubuhnya turun drastis selagi ia tidur. Hawking dilarikan ke rumah sakit dan dirawat selama empat bulan. Akhirnya ia boleh pulang dengan membawa ventilator untuk dipakai waktu malam. Satu tahun kemudian, Hawking direkrut untuk membantu kampanye penggalangan dana universitas untuk peringatan dies natalis kedelapanratus. Hawking dikirim ke San Fransisco untuk memberi lima kuliah dalam enam hari. Hal ini membuatnya kelelahan. Satu pagi, ia pingsan setelah ventilator dilepas. Perawat yang bertugas mengira Hawking tidak kenapa-kenapa. Hawking mungkin bisa mati ketika itu andai perawat lain tak memanggil Elaine yang langsung tanggap dengan apa yang terjadi pada suaminya tersebut. Semua krisis tersebut turut membebani emosional Elaine. Hawking dan Elaine akhirnya bercerai pada 2007. Pasca perceraian tersebut, ia hidup sendiri ditemani pengurus rumah.

Lucy, anak kedua Hawking dari istri pertama, Jane, dikemudian hari menjadi penulis. Ia telah banyak menulis novel dewasa, menulis untuk banyak surat kabar, serta tampil mengisi acara di televisi dan radio. Lucy juga memberikan ceramah-ceramah populer mengenai perjalanan ke ruang angkasa dan sains untuk anak-anak. Ia juga turut memberikan pidato pada peringatan dies natalis kelimahpuluh NASA. Pada tahun 2008, Lucy memenangkan Sapip Award for Popularizing Science. Selain itu, ia juga berkolaborasi dengan Hawking, bapak kandungnya, menulis seri buku “George”, cerita petualangan sains untuk anak-anak, orang-orang dewasa masa depan. Buku-buku yang ditulis duet Hawking dan Lucy yang sudah terbit adalah George’s Secret Key to the Universe, George’s Cosmic Treasure Hunt, George and the Big Bang, George’s and the Unbreakable Code, dan George and the Space Prospectors.

Hawking juga manusia, yang bisa jatuh cinta dan cemburu.

Read More......

Sabtu, 15 November 2014

Kisah Cinta Albert Einstein





Kisah cinta Albert Einstein tak kalah seru dengan petualangan ilmiah dan politiknya. Einstein, fisikawan yang memiliki empat kewarganegaraan (Swiss, Jerman, Austri, dan Amerika Serikat) ini pernah mengalami masa-masa sangat mesra dengan Marie Winteler. Einstein jatuh cinta kepada Marie Winteler pada paruh akhir tahun 1895. Sejak beberapa bulan sebelumnya, Einstein telah tinggal di rumah keluarga Winteler. Jost Winteler, yang merupakan bapak Marie, adalah bapak angkat Einstein. Einstein tinggal di rumah mereka ketika ia menjadi mahasiswa di Aarau.

Usia mereka terpaut dua tahun, Marie lebih tua daripada Einstein. Tetapi kisah asmara mereka ini mendapat restu penuh dari ibu Einstein, Pauline Koch, yang ketika menikah dengan bapak Einstein berusia 18 tahun. Sayang kemesraan Einstein dan cinta pertamanya tak berlangsung lama, mereka malah tak pernah sampai pada jenjang pernikahan. Einstein memutuskan Marie melalui surat yang ia ibu Marie. Tak hanya Marie yang kecewa, tetapi juga ibu Einstein. Bahkan kekecewaan ibu Einstein sulit hilang sampai beberapa tahun kemudian. Tetapi hubungan keluarga Einstein dengan keluarga Winteler, tak berhenti. Adik Einstein, Maria “Maja” Einstein, akhirnya menikah dengan Paul Winteler, saudara kandung Marie.

Putus dari Marie, Einstein jatuh ke pelukan Mileva Marić. Mileva adalah anak pertama sekaligus kesayangan seorang petani asal Serbia. Bapaknya mendukung penuh hastar putrinya agar bisa menjadi fisikawan. Bapak Mileva ingin agar Mileva bisa meruntuhkan dominasi laki-laki di dunia fisika. Usia Mileva tiga tahun lebih tua daripada Einstein. Tapi di Politeknik Zurich, mereka sekelas. Mileva adalah satu-satunya perempuan di kelas Einstein.

Mileva merupakan gadis yang cerdas, kecil, tapi tak tampak cantik. Kisah cinta mereka mendapat penolakan keras dari ibu Einstein, yang berkali-kali mengganggu perjalanan asmara mereka. Einstein menikahi Mileva setelah Mileva melahirkan putri dari hasil bercinta dengan Einstein. Mereka bercinta dalam liburan di Danau Como, Mei 1901. Sayang, putri mereka dari hasil bercinta sebelum menikah yang diberi nama Lieserl, menjadi sosok misterius. Tak ada satupun orang yang bisa melacak keberadaan Lieserl dan banyak spekulasi beredar mengenai hal ini dengan dukungan data parsial.

Mileva adalah pendamping Einstein dari bukan siapa-siapa sampai menjadi orang penting dalam revolusi fisika. Ia mengalami masa-masa ketika Einstein sangat sulit mencari pekerjaan dan mendapat penghasilan untuk memenuhi biaya hidup mereka. Sampai pada akhirnya Einstein menerbitkan makalah revolusioner yang berkaitan dengan Relativitas Khusus, mereka masih bersama. Selain Lieserl, buah hati mereka adalah, Hans Albert dan Eduard. Hans kemudian menjadi profesor teknik hidorlik di Berkeley, Amerika Serikat. Sedangkan Eduard akhirnya meninggal pada usia dua puluhan setelah kalah melawan skizofernia.

Kemesraan Einstein dan Mileva menemui tanda-tanda keretakan sejak 1914. Pada tahun tersebut, keduanya mulai “pisah ranjang”. Michele Angelo Besso dan Heinrich Zangger, sahabat karib Einstein berusaha keras untuk menahan mereka agar tak berpisah. Sayang usaha mereka sia-sia setelah Einstein dan Mileva resmi bercerai pada 1919. Meski telah bercerai, tetapi Einstein masih memberikan uangnya pada Mileva, termasuk uang dari hadiah nobel yang ia dapatkan.

Sejak “pisah ranjang” dengan Mileva, Einstein tinggal dengan Elsa. Elsa adalah saudara sepupu Einstein. Sebelum menikah dengan Einstein, Elsa merupakan istri dari pedagang tekstil, Max Löwenthal. Dari pernikahan pertama, Elsa memiliki dua buah hati, Margot dan Ilse. Margot kemudian menjadi seniman dan menulis buku tentang Einstein. Ilse yang sempat berkecimpung di dunia fisika juga menulis buku tentang Einstein. Elsa dan Löwenthal bercerai pada 1908 dan menikah dengan Einstein, pernikahan kedua bagi masing-masing pihak, pada 1919.

Pernikahan kedua Einstein berbeda dengan yang pertama. Pernikahan tersebut bukan karena cinta dan nafsu. Meski sempat tinggal 4,5 tahun sebelum resmi menikah, tetapi mereka tidur pada ranjang yang berbeda. Hal-hal yang tak diharapkan seperti pernah menimpa Einstein dan Mileva pun tak terjadi. Elsa juga berbeda dengan Mileva. Mileva yang memiliki kecerdasan di bidang fisika, bisa menjadi kolega ilmiah Einstein, sementara Elsa hanya berbakat pada hitungan matematika untuk rumah tangga. Jadi tak bisa juga disebut karena alasan intelektual. Elsa yang merupakan istri kedua dan pacar ketiga Einstein akhirnya menjadi orang yang berada di sisi Einstein sampai akhir hidupnya.

Read More......

Jumat, 07 November 2014

Bagaimana Menemukan Sebuah Planet di Ruang Angkasa?



Oleh: Profesor Geoff Marcy (Profesor of Astronomi, Universitas Berkeley)

Planet tidak membangkitkan energi sendiri, sehingga mereka sangat redup dibandingkan bintang-bintang induknya yang bertenaga nuklir. Kalau kita menggunakan teleskop yang sangat kuat untuk mengambil foto sebuah planet, cahayanya yang redup akan hilang tertelan cahaya bintang yang diedarinya.

Namun planet-planet bisa dideteksi dari tarikan gravitasi yang mereka timbulkan terhadap bintang mereka. Planet menarik apel, bulan, dan satelit ke arah mereka dengan gaya gravitasi, dan mereka juga menarik bintang induk mereka. Sama seperti halnya anjing yang diikat tali tak bisa menarik pemiliknya ke sana kemari, planet bisa menarik intang induknya, dengan gravitasi sebagai tali pengikatnya.

Para ahli astronomi bisa memperhatikan sebuah bintang yang dekat letaknya, terutama yang relatif sangat dekat seperti Alpha Centauri A atau B, untuk melihat apakah bintang itu tertarik-tarik oleh sebuah planet yang tak terlihat. Gerakan sebuah bintang merupakan tanda akan adanya planet, dan gerakan itu bisa dideteksi dengan dua cara.

Pertama, gelombang cahaya dari bintang itu akan termampatkan atau terentangkan ketika bintang itu bergerak mendekat atau menjauh dari bumi (itu disebut Efek Doppler). Kedua, dua teleskop secara bersama-sama bisa menggabungkan gelombang-gelombang cahaya dari sebuah bintang untuk mendeteksi pergerakan bintang tersebut.

Planet-planet kecil seperti Bumi dan sebesar Yupiter telah dideteksi di sekitar sistem bintang yang paling dekat dengan kita, Alpha Centauri A dan B, menggunakan teknik-teknik itu. Dan para pemburu planet masih meneliti bintang-bintang yang lebih jauh,

Mungkin suatu hari nanti kita akan menemukan sebuah planet yang belum pernah ditemukan orang lain!


Read More......
Template by - Abdul Munir | Daya Earth Blogger Template