Laman

Sabtu, 01 November 2014

Albert Einstein dan Matematika





Matematika, the queen of sciences, adalah partner abadi Fisika. Hubungan keduanya adalah Matematika menjadi pembantu bagi Fisika. Sebesar apapun peran yang diberikan Matematika pada Fisika, ia tetap pembantu bagi “sang majikan” yang mendapat julukan the king of sciences. Lagipula karakter keduanya juga berbeda. Dalam Fisika –setidaknya untuk beberapa abad terakhir, kebenaran didasarkan pada fenomena alam. Dalam Fisika, perhitungan harus tunduk pada kenyataan atau fenomena alam ketika keduanya memberikan hasil yang berbeda. Sedangkan Matematika tidak demikian. Perbedaan antara hasil olahan Matematika dengan fenomena alam tak harus diikuti dengan sikap tunduk pada salah satu. Bahkan bisa dibilang ketika fenomena alam berbeda dengan olahan Matematika, yang salah adalah fenomena alam.

Bicara mengenai Matematika dan Fisika, ada satu cerita tentang Albert Einstein, Fisikawan populer dan revolusioner yang kabarnya tak lulus dalam ujian Matematika. Cerita tersebut seringkali disertai dengan pernyataan, “Seperti diketahui semua orang,” seolah telah menjadi hal yang benar-benar terjadi. Berita tersebut dicantumkan dalam banyak tulisan yang terdapat buku dan situs web dan terus menerus diulang-ulang. Satu tulisan menyatakannya, lalu tulisan lain mencontek karena beritanya menarik, dan akhirnya semua orang percaya bahwa apapun yang muncul dalam tulisan berkali-kali pasti benar.

Berita yang menyatakan Einstein tak lulus ujian Matematika biasanya dirancang untuk meningkatkan kepercayaan diri murid-murid yang kurang cakap dalam Matematika tetapi memiliki minat terhadap Fisika. Upaya untuk meningkatkan kepercayaan diri orang yang memiliki kemauan keras tanpa memiliki modal kemampuan bagus adalah hal yang baik, tetapi jika dilakukan dengan kebohongan, apakah masih bagus? Alih-alih merangsang kepercayaan diri malah bisa membuat mereka yang kurang cakap dengan Matematika cenderung tak menganggap Matematika hal yang penting bagi Fisika dan kemudian mengabaikan Matematika.

Einstein, meski masa balitanya bermasalah karena lambat bicara, tak memiliki masalah dengan Matematika. Einstein tak pernah gagal dalam Matematika, bahkan ia sudah menguasai kalkulus diferensial dan integral sebelum berusia lima belas tahun. Untuk di Indonesia saat ini, kalkulus diferensial dan integral mulai diperkenalkan di sekolah mulai kelas IX SMA/MA. Selama di sekolah, meskipun nakal, ia memiliki prestasi kognitif yang mengagumkan. Ia mendapat nilai yang bagus dalam setiap mata pelajaran dan sempat beberapa kali mendapat peringkat pertama. Bahkan dalam pelajaran bahasa, yang paling bermasalah dan kurang dikuasainya, ia masih bisa mendapat nilai yang bagus yang tak “menodai” rapornya.

Dalam Matematika, kemampuan Einstein jauh melampaui persyaratan sekolah. Ia sudah biasa memecahkan permasalahan Matematika sebelum berusia dua belas tahun. Dukungan orangtua yang membelikan buku-buku Matematika turut membantu Einstein menguasai pelajaran yang tetap ia pelajari meski sedang libur sekolah ini. Ia tak hanya mempelajarai pembuktian-pembuktian dalam buku tersebut tetapi juga memecahkan teori-teori baru dengan berusaha membuktikannya sendiri. Jakob, paman Einstein dari pihak bapak yang merupakan seorang insyinyur, turut membimbing Einstein dalam Matematika.

Max Talmud, teman Einstein yang usianya 11 tahun lebih tua dari Einstein dan menempuh kuliah kedokteran, pernah memberikan buku pelajaran geomteri dua tahun sebelum topik tersebut di pelajari di sekolah. Saat itu Einstein berusia 10 tahun dan Talmud 21 tahun. Dengan tekun Einstein mempelajari buku tersebut. Ia mencurahkan waktu yang lebih tinggi pada Matematika dan dengan segera kegeniusan Matematika Einstein terbang tinggi melampaui kemampuan Max Talmud.

Mungkin mereka yang terlanjur meyakini berita bahwa Einstein tak lulus ujian Matematika, bisa memanfaatkan kenyataan bahwa Einstein mengakhiri setahun bersekolah di Aarau, Swiss, dengan hanya menempati peringkat kedua, bukan pertama. Saat ujian Matematika, ia membuat kesalahan dengan menyebut bilangan imajiner, padahal yang dimaksud adalah bilangan irasional. Meski dalam ujian tersebut, nilai Matematika Einstein tetap tinggi.


Read More......

Jumat, 24 Oktober 2014

Tanpa Dukungan Alam Dalam Hilal Muharram





Sekitar pukul 9 pagi, dua anggota Cakrawala UPI mulai memasuki Laboratorium Bumi dan Antariksa. Bersama Pak Aria, mereka mulai mempersiapkan teleskop yang dipakai untuk mengamati hilal untuk 1 Muharram 1436. Hilal kali ini tak seramai hilal Ramadhan dan Syawal, bahkan masih kalah ramai dengan hilal Dzulhijjah. Padahal kali ini adalah tahun baru hijriyyah. Meski demikian, anak-anak Cakrawala UPI antusias melakukan pengamatan. Maklum saja, selama ini mereka nyaris selalu gagal memperoleh citra hilal hasil pengamatan mereka. Terbukti sejak pagi hari mereka sudah meluangkan waktunya.

Iqlima, Adib, dan Miftah, dengan ditemani Pak Aria mulai memasang teleskop yang dipakai dalam pengamatan. Teleskop yang dipakai kali ini adalah WO+iOptroniE5100. Langit tampak cerah yang membuat mereka mengamati Matahari sembari menunggu bulan muda terbit. Matahari sendiri hari ini sedang mengalami masa-masa aktif. Pak Aria turut menjelaskan dampak Matahari aktif, salah satunya dalam hal navigasi.

Selepas waktu sholat Jum’at, sempat beberapa menit gerimis mengguyur. Tapi langit kembali cerah seperti sebelumnya. Sekitar pukul 4 sore, mereka kedatangan tamu dari BMKG yang turut melakukan pengamatan di menara timur gedung A FPMIPA UPI. Tak hanya 3 orang tersebut yang hadir, Maryam dan Syifa pun menyusul kemudian. Bahkan Arman dari Altair pun turut mengikuti pengamatan yang tampaknya akan berhasil. Posisi bulan muda memungkinkan untuk dilakukan pengamatan dan sejak pagi langit tampak cerah.

Sayang menjelang detik-detik terakhir sebelum terbitnya hilal alias bulan muda ini, langit tiba-tiba sangat mendung. Langit yang mendung tak bisa lagi dihindari. Pengamatan yang tampaknya akan berjalan lancar justru gagal. Tetapi tidak gagal total lantaran mereka cukup mendapatkan citra dari Matahari yang sedang mengalami masa aktif.

Foto-foto dalam pengamatan kali ini bisa dilihat melalui tautan ini.

Read More......

Selasa, 21 Oktober 2014

Tak Salah Bulan Lagi





Akhirnya setelah gagal menjamu di akhir September lalu (baca: Salah Bulan, Gagal Menyambut Kunjungan) , Cakrawala UPI malam ini mendapat lawatan dari SMP 1 Sukabumi. Satu rombongan anak-anak SMP tersebut ditemani dengan guru mereka yang turut serta datang ke Laboratorium Bumi dan Antariksa (LBA) FPMIPA UPI. Rombongan SMP tersebut datang tepat pukul 18:44 waktu setempat. Setelah sejenak melepas lelah sambil sambil menempatkan diri ke tempat yang disediakan, acara kemudian dimulai tepat pukul 18:55 waktu setempat.

Dalam acara kali ini, diisi dengan presentasi dari Pak Asep Sutiadi dan Pak Nanang Dwi Ardi. Pak Asep lebih dahulu memulai presentasi. Dalam presentasi tersebut, beliau menjelaskan mengenai medan elektrostatis. Penjelasan beliau dibantu dengan alat Electric Field Apparatus. Penyampaian Pak Asep cukup interaktif sehingga membuat peserta merasa termotivasi untuk mengikuti. Pak Asep juga turut mengajak salah satu peserta ke depan.

Sakitar satu jam kemudian, presentasi dilanjutkan oleh Pak Nanang. Pak Nanang menjelaskan mengenai peta langit Bandung malam ini dengan dibantu oleh CyberSky, salah satu software astronomi. Pak Nanang juga turut memberikan informasi seputar beberapa software astronomi yang biasa dipakai. Fenomena hujan meteor Orionid yang turut meramaikan juga dijelaskan oleh Pak Nanang. Pak Nanang memberitahu arti nama meteor. Misalnya meteor Orionid, -id menunjukkan nama meteor sementara Orion adalah rasi terdekat dengan meteor tersebut. Tak ketinggalan, Pak Nanang juga menjelaskan status Pluto yang masih kontroversial sampai sekarang dengan turut memperlihatkan bentuk orbit Pluto.

Usai menjelaskan mengenai peta langit, Pak Nanang menjelaskan Teleskop dan Sistem Optik. Presentasi kali ini menjelaskan mengenai macam-macam teleskop. Salah satu peserta sempat melontarkan pertanyaan mengenai alien atau yang memiliki nama resmi E.T.I. (Extra Terrestrial Intelligence). Jawaban Pak Nanang diselingi dengan candaan bahwa aliennya sedang ada di depannya yang kemudian dilanjutkan dengan penjelasan seputar usaha pencarian E.T.I.

Setelah presentasi selesai, peserta diajak untuk meneropong langit. Peneropongan kali ini menggunakan teleskop Celestron 11. Teleskop ini juga biasa dipakai dalam pengamatan yang dilakukan oleh Cakrawala UPI.

Untuk foto-foto dalam acara ini, dapat dilihat melalui tautan ini



 

Read More......
Template by - Abdul Munir | Daya Earth Blogger Template