Laman

Jumat, 24 Oktober 2014

Tanpa Dukungan Alam Dalam Hilal Muharram





Sekitar pukul 9 pagi, dua anggota Cakrawala UPI mulai memasuki Laboratorium Bumi dan Antariksa. Bersama Pak Aria, mereka mulai mempersiapkan teleskop yang dipakai untuk mengamati hilal untuk 1 Muharram 1436. Hilal kali ini tak seramai hilal Ramadhan dan Syawal, bahkan masih kalah ramai dengan hilal Dzulhijjah. Padahal kali ini adalah tahun baru hijriyyah. Meski demikian, anak-anak Cakrawala UPI antusias melakukan pengamatan. Maklum saja, selama ini mereka nyaris selalu gagal memperoleh citra hilal hasil pengamatan mereka. Terbukti sejak pagi hari mereka sudah meluangkan waktunya.

Iqlima, Adib, dan Miftah, dengan ditemani Pak Aria mulai memasang teleskop yang dipakai dalam pengamatan. Teleskop yang dipakai kali ini adalah WO+iOptroniE5100. Langit tampak cerah yang membuat mereka mengamati Matahari sembari menunggu bulan muda terbit. Matahari sendiri hari ini sedang mengalami masa-masa aktif. Pak Aria turut menjelaskan dampak Matahari aktif, salah satunya dalam hal navigasi.

Selepas waktu sholat Jum’at, sempat beberapa menit gerimis mengguyur. Tapi langit kembali cerah seperti sebelumnya. Sekitar pukul 4 sore, mereka kedatangan tamu dari BMKG yang turut melakukan pengamatan di menara timur gedung A FPMIPA UPI. Tak hanya 3 orang tersebut yang hadir, Maryam dan Syifa pun menyusul kemudian. Bahkan Arman dari Altair pun turut mengikuti pengamatan yang tampaknya akan berhasil. Posisi bulan muda memungkinkan untuk dilakukan pengamatan dan sejak pagi langit tampak cerah.

Sayang menjelang detik-detik terakhir sebelum terbitnya hilal alias bulan muda ini, langit tiba-tiba sangat mendung. Langit yang mendung tak bisa lagi dihindari. Pengamatan yang tampaknya akan berjalan lancar justru gagal. Tetapi tidak gagal total lantaran mereka cukup mendapatkan citra dari Matahari yang sedang mengalami masa aktif.

Foto-foto dalam pengamatan kali ini bisa dilihat melalui tautan ini.

Read More......

Selasa, 21 Oktober 2014

Tak Salah Bulan Lagi





Akhirnya setelah gagal menjamu di akhir September lalu (baca: Salah Bulan, Gagal Menyambut Kunjungan) , Cakrawala UPI malam ini mendapat lawatan dari SMP 1 Sukabumi. Satu rombongan anak-anak SMP tersebut ditemani dengan guru mereka yang turut serta datang ke Laboratorium Bumi dan Antariksa (LBA) FPMIPA UPI. Rombongan SMP tersebut datang tepat pukul 18:44 waktu setempat. Setelah sejenak melepas lelah sambil sambil menempatkan diri ke tempat yang disediakan, acara kemudian dimulai tepat pukul 18:55 waktu setempat.

Dalam acara kali ini, diisi dengan presentasi dari Pak Asep Sutiadi dan Pak Nanang Dwi Ardi. Pak Asep lebih dahulu memulai presentasi. Dalam presentasi tersebut, beliau menjelaskan mengenai medan elektrostatis. Penjelasan beliau dibantu dengan alat Electric Field Apparatus. Penyampaian Pak Asep cukup interaktif sehingga membuat peserta merasa termotivasi untuk mengikuti. Pak Asep juga turut mengajak salah satu peserta ke depan.

Sakitar satu jam kemudian, presentasi dilanjutkan oleh Pak Nanang. Pak Nanang menjelaskan mengenai peta langit Bandung malam ini dengan dibantu oleh CyberSky, salah satu software astronomi. Pak Nanang juga turut memberikan informasi seputar beberapa software astronomi yang biasa dipakai. Fenomena hujan meteor Orionid yang turut meramaikan juga dijelaskan oleh Pak Nanang. Pak Nanang memberitahu arti nama meteor. Misalnya meteor Orionid, -id menunjukkan nama meteor sementara Orion adalah rasi terdekat dengan meteor tersebut. Tak ketinggalan, Pak Nanang juga menjelaskan status Pluto yang masih kontroversial sampai sekarang dengan turut memperlihatkan bentuk orbit Pluto.

Usai menjelaskan mengenai peta langit, Pak Nanang menjelaskan Teleskop dan Sistem Optik. Presentasi kali ini menjelaskan mengenai macam-macam teleskop. Salah satu peserta sempat melontarkan pertanyaan mengenai alien atau yang memiliki nama resmi E.T.I. (Extra Terrestrial Intelligence). Jawaban Pak Nanang diselingi dengan candaan bahwa aliennya sedang ada di depannya yang kemudian dilanjutkan dengan penjelasan seputar usaha pencarian E.T.I.

Setelah presentasi selesai, peserta diajak untuk meneropong langit. Peneropongan kali ini menggunakan teleskop Celestron 11. Teleskop ini juga biasa dipakai dalam pengamatan yang dilakukan oleh Cakrawala UPI.

Untuk foto-foto dalam acara ini, dapat dilihat melalui tautan ini



 

Read More......

Sabtu, 18 Oktober 2014

Persamaan Drake





Persamaan Drake sebetulnya bukan benar-benar sebuah persamaan, melainkan serangkaian perkiraan yang membantu kita untuk memperkirakan berapa banyak peradaban makhluk cerdas yang mempunyai kemampuan untuk berkomunikasi, yang mungkin ada di galaksi kita. Formula itu dibuat pada tahun 1961 oleh Dr. Frank Drake dari Institut SETI (kependekan dari Search for Extraterrestial Intelligent, atau Pencarian Peradaban Cerdas Luar Bumi), dan masih dipakai oleh para ilmuwan sampai sekarang.

Berikut persamaan Drake:
N = N* x fp x ne x fl x fi x fc x L

N* adalah jumlah bintang baru yang dilahirkan setiap tahun di galaksi Bimasakti. Galaksi Bimasakti berusia sekitar 12 miliar tahun, dan berisi kira-kira 300 miliar bintang. Jadi, rata-rata, bintang dilahirkan dengan kecepatan 300 miliar dibagi 12 miliar = 25 bintang per tahun.

fp adalah persentase dari bintang-bintang itu yang memiliki planet yang beredar mengelilinginya. Perkiraan saat ini berkisar antara 20 sampai 70 persen.

ne adalah jumlah planet per bintang yang kondisinya bisa mendukung adanya kehidupan. Perkiraan saat ini berkisar antara 1 sampai 5.

fl adalah persentase dari fl di mana makhluk hidup cerdas berevolusi. Perkiraan saat ini berkisar antara 100 persen (di mana kehidupan bisa berevolusi, kehidupan akan berevolusi) sampai mendekati 0 persen.

fi adalah persentase dari fl di mana makhluk hidup cerdas berevolusi. Perkiraan berkisar dari 100 persen (makhluk cerdas memiliki keunggulan dalam hal kelangsungan hidup, sehingga akan berevolusi) sampai sekecil hampir 0 persen.

fc adalah persentase dari fi yang berkomunikasi. Perkiraan makhluk hidup cerdas yang memiliki cara dan kemauan untuk berkomunikasi berkisar antara 10 sampai 20 persen.

L adalah angka rata-rata banyaknya tahun di mana peradaban yang berkomunikasi bisa mempertahankan kelangsungan hidupnya. Ini adalah bagian paling sulit untuk diperkirakan. Kalau kita memakai Bumi sebagai contoh, kita telah berkomunikasi dengan menggunakan gelombang radio selama kurang dari 100 tahun. Untuk seberapa lama peradaban kita bisa bertahan, bisa jadi tinggal beberapa tahun ke depan atau bisa saja bertahan selama 10.000 tahun atau lebih.

Setelah semua variabel itu dikalikan satu sama lain, akan kita dapatkan:
N, yaitu jumlah dari peradaban yang berkomunikasi di galaksi.

Untuk ulasan lengkapnya, silahkan unduh berkas melalui tautan berikut:
http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._FISIKA/197703312008121001-JUDHISTIRA_ARIA_UTAMA/Publikasi/PENCARIAN%20RUMAH%20BARU%20DI%20LUAR%20BUMI.pdf
 

Read More......
Template by - Abdul Munir | Daya Earth Blogger Template