Laman

Sabtu, 28 Juni 2014

Perburuan Bulan Muda Jilid 2



 Setelah perburuan bulan muda yang dilakukan kemarin sore, 27 Juni 2014, belum berhasil, pagi ini Cakrawala UPI kembali berburu bulan muda. Lokasi pengamatan masih sama di Menara Timur Gedung FPMIPA UPI. Persiapan mulai dilakukan sejak pukul 06:30 waktu setempat. Sampai saat ini, kondisi langit masih tampak berawan. Tim pengamat masih berusaha mendapatkan citra bulan muda yang saat ini, pada pukul 07:39, berada pada azimut 69017’10” dan altitude 14042’03”.

Read More......

Jumat, 27 Juni 2014

Berburu Hilal Bersama Cakrawala UPI


 
Hilal adalah bulan sabit muda pertama yang dapat dilihat setelah terjadinya konjungsi (ijtima’, bulan baru) pada arah dekat matahari terbenam yang menjadi acuan permulaan bulan dalam kalender yang berdasarkan pergerakan bulan (lunar calendar), termasuk kalender hijriyah. Banyak kegiatan penting dalam Islam menggunakan dasar lunar calendar. Diantaranya adalah puasa Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri, waktu Wuquh di Arafah, dsb dst. Dengan demikian penting untuk menyebarluaskan informasi awal bulan baru yang ditandai dengan penampakan hilal.

Tahun ini UPI kembali diberi kepercayaan sebagai salah satu institusi dan organisasi astronomi yang menayangkan langsung pengamatan hilal. Tayang langsung ini dilakukan untuk memberi informasi kepada masyarakat luas tentang informasi hilal. Informasi hilal dapat menjadi salah satu masukan bagi pemerintah dalam penentuan kalender. Selain itu dapat digunakan untuk menjadi bahan untuk merumuskan kriteria dan pemahaman yang lebih mendalam tentang visibilitas (tampakan) hilal. Tayang langsung ini tidak menjamin bahwa hilal dapat dilihat, juga tidak dimaksudkan untuk menilai peralatan pendukung memiliki kemampuan atau tidak untuk melihat hilal yang rendah ketinggiannya dari ufuk. Banyak kondisi yang turut memengaruhi keberhasilan penampakan hilal, seperti cuaca, selain posisi hilal itu sendiri.

Sebagai persiapan, UPI –diwakili dengan Cakrawala UPI, melakukan diskusi umum seputar hilal. Acara ini berlangsung pada Kamis 26 Juni 2014 di Laboratorium Bumi & Antariksa FPMIPA UPI. Acara ini sendiri termasuk ke dalam alur acara Star Evolution yang menjadi rangkaian kaderisasi bagi para Nebula Cakrawala UPI. Tujuan acara ini sendiri adalah untuk memahamai secara umum tentang hilal. Narasumber acara kali ini adalah Judhistira Aria Utama, dosen UPI yang juga menjadi pembina Cakrawala UPI. Pak Aria mengawali pembahasan dengan memberikan informasi bahwa UPI bergabung dengan konsorsium pengamatan hilal nasional yang digawangi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo).

Dalam acara pengamatan ini infrastruktur disediakan oleh Kemkominfo dan didukung oleh PT. Telekomunikasi Indonesia. Acara ini dapat dinikmati melalui link http://hilal.kominfo.go.id/. Untuk tahun ini acara berlangsung di 28 titik yang salah satunya berada di Menara Timur gedung FPMIPA A UPI.

B.Jm.Pa.290835.270614.09:04

Read More......

Rabu, 25 Juni 2014

Antara Ru’yat dan Hisab




Menjelang awal Ramadhan dan awal Syawal, umat Islam Indonesia selalu akrab dengan kata ru’yat dan hisab. Dua metode ini selalu dianggap sebagai kambing hitam tidak kompaknya awal Ramadhan dan awal Syawal bagi semua umat Islam Indonesia. Hisab identik dengan Muhammadiyah sedangkan ru’yat identik dengan Nahdlatul Ulama (NU), dua ormas Islam terbesar di Indonesia. Perbedaan mengenai kapan jatuhnya tanggal 1 Ramadhan dan 1 Syawal antara Muhammadiyah dan NU cukup menimbulkan masalah yang cukup pelik di kalangan umat grass root.

Para ulama Muhammadiyah dan NU masing-masing memiliki cara yang berbeda untuk menetapkan kapan jatuhnya 1 Ramadhan dan 1 Syawal, atau secara umum jatuhnya awal bulan hijriyyah. Metode ru’yat adalah mengamati langsung hilal ketika menjelang maghrib. Terbitnya hilal menandai masuknya awal bulan hijriyyah. Sedangkan hisab adalah melakukan perhitungan matematis berdasarkan peredaran bulan. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Apalagi kalau diteliti lebih lanjut, dalam metode ru’yat pun hisab juga dipakai sebagai prediksi. Metode ru’yat memang bisa memastikan kapan awal bulan, akan tetapi sulit dilakukan jika pada hari pengamatan terjadi mendung serta terdapat polusi udara dan cahaya. Sedangkan metode hisab belum bisa memastikan kapan awal bulan, namun tidak terjadi masalah jika pada hari yang diperkirakan terjadi mendung.

Menurut Pak Judhistira Aria Utama dalam kuliah umum bertajuk, “Mengukur Visibilitas Hilal dengan Metode Castner” yang diadakan Cakrawala menjelang Ramadhan tahun lalu, sebaiknya dilakukan pengamatan langsung. Seandainya hasil perhitungan (hisab) berbeda dengan hasil pengamatan (ru’yat), maka perhitungan lebih baik mengalah. Mengenai masalah apabila terjadi mendung pada hari pengamatan, Pak Aria menuturkan sebaiknya mengikuti keyakinan masing-masing. Pak Aria juga berpesan dalam mengawal Ramadhan dan Syawal, tidak perlu membesar-besarkan masalah ini. Pasalnya perbedaan metode ini memang selalu ada dan masing-masing individu memiliki keyakinan masing-masing.

B.Sl.Wg.200735.200514.16:59

Read More......
Template by - Abdul Munir | Daya Earth Blogger Template