Laman

Senin, 08 September 2014

Asteroid Sebesar Rumah Melintasi Bumi

Ilustrasi asteroid Bennu dengan wahana antariksa OSIRIS-REx


Asteroid sebesar rumah terbang melintas Bumi Minggu (07/09), menurut Badan Ruang Angkasa Amerika, NASA. NASA mengatakan asteroid yang disebut 2014 RC melintas Selandia Baru pukul 18:18 GMT (01:18 WIB). Asteroid sebesar 18 meter itu melintas sepanjang 40.000 kilometer dan tidak akan membahayakan Bumi. Karena ukuran yang terlalu kecil, asteroid itu tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Namun para astronom amatir dapat melihat dengan teleskop.

Menurut NASA, Asteroid ini diperkirakan akan mengorbit di dekat Bumi lagi pada masa yang akan datang. Pada Februari 2013, meteor dengan ukuran yang sama meledak di atas Chelyabinsk di Rusia Tengah dan melukai lebih dari 1.000 orang. NASA saat ini telah melacak lebih dari 11.000 asteroid yang mengorbit cukup dekat dengan Bumi.

Sumber: http://sains.kompas.com/read/2014/09/08/04000031/Asteroid.Sebesar.Rumah.Lintasi.Bumi
 

Read More......

Sabtu, 30 Agustus 2014

Menghitung Waktu dengan Teleskop

Oleh: Judhistira Aria Utama (Pembina Cakrawala UPI)

Sebagai sebuah ilmu pengetahuan yang dikembangkan melalui pengamatan (observational science), kegiatan observasi dalam astronomi mendapat tempat dan perhatian yang penting. Sejak era Babilonia hingga sekarang, evolusi pemahaman manusia atas alam semesta berangkat dari kemauan untuk mengamati "tanda- tanda" yang teramati di langit.

Disamping pengamatan, perkembangan astronomi juga didukung oleh pemodelan terhadap hasil observasi astronomi. Pemodelan tersebut sangat berguna untuk merencanakan pengamatan yang berkesinambungan, tidak hanya dalam pengertian jangka pendek, tetapi juga menjangkau lintas generasi. Oleh karena itu, baik pengamatan maupun pemodelan harus dapat berjalan seiring untuk mengisi satu sama lain.

Sebuah model dibangun dari data observasi yang (tidak jarang) mencakup rentang waktu yang lama, seperti pemodelan Johannes Kepler atas gerakan planet-planet di tata surya menggunakan data hasil observasi astronom Tycho Brahe, dan di saat yang sama kesahihan sebuah model harus diuji secara langsung terhadap fenomena alam yang dimodelkan tersebut. Berangkat dari sini, ketika sebuah model tidak dapat lagi sesuai dengan fenomena dimaksud, maka model tersebut harus disempurnakan kembali.

Ilmu falak sebagai bagian dari astronomi tentunya mempunyai karakter yang serupa. Pengamatan (rukyat) dan pemodelan (hisab) harus dapat berjalan seiring. Mempertentangkan keduanya hanya akan menghambat perkembangan ilmu falak itu sendiri. Faktanya, dalam ilmu falak dapat dijumpai penggunaan data yang tergolong usang untuk menghitung suatu fenomena astronomis. Hal tersebut sebagai akibat ketiadaan data pengamatan (rukyat) baru untuk menyempurnakan model (hisab) yang ada sehingga ilmu falak seakan tidak berkembang karena kedua pilar penyangganya, pengamatan dan pemodelan, tidak berjalan seiring.

Sistem teleskop

Sejak pertama kali digunakan oleh astronom Italia, Galileo Galilei (1564-1642), untuk mengamati langit, teleskop mempunyai peran sentral dalam pengembangan astronomi. Teleskop merupakan sebuah perangkat optik ideal untuk menjelajahi kedalaman semesta, juga mengamati benda-benda langit termasuk hilal. Hal ini terkait dengan fungsi teleskop sebagai alat pengumpul cahaya, memisahkan obyek- obyek berdekatan yang oleh mata bugil hanya tampak sebagai satu buah obyek, dan kemampuannya memperbesar obyek langit yang diamati.

Lazimnya, sebuah sistem teleskop terdiri atas tabung teleskop dan penyangga. Teleskop mempunyai dua buah sumbu yang saling tegak lurus yang memungkinkannya untuk digerakkan ke segala arah di langit. Sebagai sebuah instrumen pengamatan, teleskop harus memiliki kemampuan mengikuti pergerakan benda langit yang diamati dengan sebebas-bebasnya. Kemampuan ini terkait dengan penyangga teleskop yang bersangkutan (telescope mounting), yang tidak lain adalah sistem koordinat langit yang diterapkan pada perangkat optik ini.

Secara garis besar ada dua macam sistem sangga teleskop, yaitu alt-azimut dan ekuatorial. Sistem sangga alt-azimut mengacu pada tata koordinat horizon yang lebih familiar dengan menyatakan posisi benda langit menurut ketinggian (altitude) dan azimut (azimuth).

Teleskop dengan sistem sangga ini memiliki dua sumbu yang saling tegak lurus, yaitu sumbu ketinggian (horisontal) dan sumbu azimut (vertikal). Di kedua sumbu tersebut terdapat skala ketinggian dan azimut untuk membaca posisi benda langit. Skala ketinggian menyatakan jarak obyek dari horizon atau cakrawala.

Besaran ini dinyatakan dalam satuan derajat, mulai dari 0 derajat di horizon sampai +90 derajat di meridian. Artinya, obyek-obyek yang belum terbit alias masih berada di bawah cakrawala memiliki ketinggian negatif. Sudut azimut dihitung sepanjang horizon dari arah selatan ke barat sampai lingkaran vertikal (meridian) yang melalui benda langit. Skala azimut dimulai dari 0 derajat di selatan, bertambah 90 derajat ke arah barat, dan seterusnya hingga sempurna satu lingkaran 360 derajat kembali di titik selatan.

Bumi berotasi dari barat ke timur, sehingga benda-benda langit lainnya tampak bergerak dalam arah yang berlawanan. Akibat rotasi Bumi yang menyapu sudut 15 derajat tiap jamnya, agar obyek yang diamati senantiasa berada dalam medan pandang teleskop kita harus selalu mengubah-ubah kedua sumbu teleskop, sumbu horizontal dan vertikal. Ini adalah kekurangan sistem sangga alt-azimut untuk teleskop-teleskop amatir, yaitu tidak mampu bergerak "dengan halus" dalam ketinggian dan azimut guna mengoreksi efek gerak harian benda-benda langit akibat rotasi Bumi. Meskipun demikian, sejak dikenalnya mekanisme kendali di bawah kontrol komputer, sistem sangga ini masih disukai untuk instrumen profesional berukuran besar.

Untuk mengatasi kekurangan yang ada pada sistem sangga alt-azimut, orang mendesain sistem sangga ekuatorial yang didasarkan pada tata koordinat ekuatorial. Tata koordinat ekuatorial menyatakan posisi benda langit dalam asensio rekta (right ascension, ekuivalen dengan garis bujur dalam koordinat Bumi) dan deklinasi (declination, ekuivalen dengan garis lintang).

Pada sistem sangga ini, salah satu sumbu teleskop dibuat mengarah ke kutub langit sehingga disebut sebagai sumbu kutub, sedangkan sumbu lainnya (disebut sumbu deklinasi) tegak lurus sumbu kutub dan sejajar dengan bidang ekuator langit yang merupakan perluasan ekuator Bumi. Bila sumbu kutub memungkinkan teleskop bergerak bebas mengikuti gerak semu benda langit dari timur ke barat, sumbu deklinasi memungkinkan teleskop bergerak sepanjang arah utara dan selatan.

Dengan sistem sangga ekuatorial ini, sekali suatu obyek langit seperti Matahari, Bulan, bintang atau planet berada dalam medan pandang teleskop, teleskop hanya perlu digerakkan sekitar sumbu kutub untuk mengoreksi gerak semu harian benda langit akibat rotasi Bumi. Jadi, alih-alih selalu mengubah kedua sumbu teleskop seperti halnya pada sistem sangga alt-azimut, pada sistem ekuatorial hanya perlu mengubah satu sumbu saja untuk bisa mengikuti gerak benda langitnya. Kemudahan ini tentunya diimbangi juga dengan kebutuhan berupa ketelitian yang tinggi dalam pemasangannya.

Kontrol teleskop

Saat ini sebuah sistem teleskop modern tidak lagi terdiri atas teleskop dan sistem sangga semata, melainkan juga dilengkapi dengan sistem kontrol dan basis data. Kemampuan sistem kontrol teleskop diukur dari akurasinya dalam melakukan pointing dan tracking sebuah obyek langit.

Pointing merupakan kemampuan teleskop untuk bergerak ke suatu posisi benda langit yang ditentukan. Kemampuan pointing sebuah sistem teleskop sangat bergantung pada pengaturan (setting) dan penempatan (initial position) teleskop. Oleh karena itu, pengaturan dan penempatan harus dilakukan sedemikian rupa sehingga mendekati posisi teleskop yang sebenarnya sesuai dengan lintang geografis pengamatan.

Adapun tracking merupakan kemampuan sistem teleskop untuk bergerak mengikuti gerak sebuah obyek langit. Semakin lama sebuah teleskop dapat bergerak mengikuti gerak benda langit yang dimaksud, semakin baik kemampuan tracking teleskop yang bersangkutan. Karena kecepatan gerak semu harian Matahari, Bulan, planet dan bintang berbeda satu sama lain, maka kecepatan tracking teleskop harus dapat diatur sedemikian rupa sehingga dapat mengikuti gerak obyek yang sedang diamati. Teleskop Cassegrain GOTO di Observatorium Bosscha-Lembang merupakan contoh sebuah teleskop yang memiliki kontrol pointing dan tracking.

Kemajuan di bidang teknologi informasi mempunyai andil yang cukup besar dalam meningkatkan teknologi observasi astronomi. Saat ini sudah lazim dijumpai seorang astronom yang melakukan pengamatan jarak jauh. Teleskop-teleskop besar seperti Subaru yang berada di ketinggian sekitar 4.000 meter di atas permukaan laut dioperasikan dari stasiun pengendali yang berada 2.000 meter di bawahnya. Hubble Space Telescope (HST) yang mengorbit Bumi di ketinggian ratusan kilometer dan memiliki cermin bergaris tengah 240 sentimeter dikontrol dari stasiun pengendali yang berada di permukaan Bumi.

Teleskop hilal

Pada dasarnya, setiap teleskop optik baik dari jenis refraktor (sistem optik lensa) maupun reflektor (sistem optik cermin) dengan spesifikasi tertentu dapat digunakan untuk pengamatan hilal. Mengapa diperlukan teleskop? Jawaban yang paling sederhana adalah karena sering kali posisi dan penampakan hilal tidak mudah dikenali hanya dengan mata bugil. Sistem alt-azimut dan ekuatorial juga dapat digunakan sebagai sistem penyangga teleskop hilal. Namun, mengingat sebuah teleskop hilal harus memiliki karakter mobile dan obyek pengamatannya yang berada di dekat horizon, maka sistem sangga alt-azimut lebih menguntungkan karena lebih mudah dalam proses instalasinya. Terlebih lagi data posisi hilal lazimnya disajikan dalam koordinat alt-azimut (ketinggian dan azimut) yang lebih familiar.

Kemudahan instalasi teleskop hilal merupakan salah satu prasyarat yang akan menunjang keberhasilan pengamatan obyek ini. Oleh karena itu, sebuah sistem teleskop yang dilengkapi dengan sistem kontrol, basis data, dan global positioning system (GPS) yang terintegrasi merupakan pilihan yang tepat untuk pelaksanaan pengamatan hilal. GPS akan digunakan dalam menentukan posisi geografis lokasi dan waktu lokal pengamatan yang sangat berpengaruh terhadap penampakan obyek langit. Lokasi dan waktu yang diberikan oleh GPS merupakan masukan penting bagi sistem kontrol teleskop untuk melakukan pointing dan tracking sebuah obyek langit.

Teleskop MEADE LX200GPS yang terdapat Observatorium Bosscha-Lembang merupakan salah satu contoh teleskop yang ideal untuk keperluan pengamatan hilal. Kemampuannya dalam auto-installation, pointing, dan tracking sangat membantu para pengamat hilal di lapangan.

Masalah yang akan muncul adalah sekiranya pengamat yang menggunakan automatic telescope terkalibrasi dengan benar tidak berhasil melihat hilal, tetapi ada pengamat dengan mata bugil yang mengaku telah melihat hilal. Pengakuan manakah yang akan diterima untuk digunakan sebagai dasar penetapan awal bulan? Polemik bisa saja muncul, tetapi yang pasti kemajuan teknologi observasi dan perhitungan astronomi modern akan sangat berguna dalam pelaksanaan pengamatan hilal jika digunakan dengan tepat.

Tulisan ini dipublikasikan dalam harian Kompas edisi 22 Oktober 2004

Read More......

Sabtu, 23 Agustus 2014

Yohanes Surya Intan Terabaikan (3-habis)


 

Selama berkarir di bidang pengembangan fisika, Yohanes Surya pernah mendapatkan berbagai award/fellowship antara lain CEBAF/SURA award USA ’92-93 (salah satu mahasiswa terbaik dalam bidang fisika nuklir pada wilayah tenggara Amerika Serikat), penghargaan kreativitas 2005 dari Yayasan Pengembangan Kreativitas, serta anugerah Lencana Satya Wira Karya 2006 dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. Tahun 2008 ia mendapat award sebagai Pahlawan Masa Kini pilihan Modernisator dan Majalah Tempo. Yohanes Surya juga mendapatkan banyak penghargaan dari Menpora, Radio Elshinta, Harian Merdeka, Metro TV Award, Penghargaan “Icon anak Muda” dari Radio Trax FM, Koran Jakarta Award, dan Penghargaan Harian Republika sebagai “Tokoh perubahaan” di tahun 2009.

Yohanes Surya adalah guru besar fisika dari Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Ia pernah menjadi Dekan Fakultas Sains dan Matematika Universitas Pelita Harapan, Kepala Promosi dan Kerjasama Himpunan Fisika Indonesia (2001-2004), juri berbagai lomba sains/matematika, anggota Dewan Kurator Museum Iptek Taman Mini Indonesia Indah, salah satu founder The Mochtar Riady Institute, anggota Dewan Wali Amanah Sekolah Tinggi Islam Assalamiyah Banten, aktif mengkampanyekan Cinta Fisika diseluruh Indonesia , serta Rektor Universitas Multimedia Nusantara (UMN).

UMN adalah universitas yang didirikan oleh Kompas Gramedia Group dengan tujuan sebagai universitas riset yang fokus pada bidang ICT (Information and Communication Technology). Diharapkan mahasiswa Indonesia brilian yang sekarang belajar di luar negeri dapat melanjutkan dan mengembangkan risetnya di UMN. Hal ini juga didasarkan kenyataan, bahwa banyak sekali orang Indonesia yang sedang belajar di luar negeri, tak mau pulang ke kampung halaman lantaran tak ada lahan yang cukup kesanggupan untuk menampung kemampuan mereka.

Sejak tahun 2009 Yohanes Surya bekerjasama dengan pemda daerah-daerah tertinggal mengembangkan matematika Gasing, agar anak-anak daerah tertinggal itu dapat belajar matematika dengan mudah. Siswa yang dianggap “bodoh” ternyata mampu menguasai matematika kelas 1-6 SD dalam waktu hanya 6 bulan. Program ini diimplementasikan diberbagai daerah tertinggal, terutama di Papua yang mendapat citra sebagai tempat tertinggal. Ia membawa beberapa anak Papua belajar sains di Jakarta. Ia memilih Papua karena di sana fasilitas pendidikan masih sedikit. Beberapa anak didiknya dari Papua berhasil memenangi lomba fisika tingkat internasional. Indonesia pun mulai dikenal sebagai “produsen” anak-anak jenius yang tak kalah bersaing di tingkat dunia. Pada titik inilah, fisika bisa menjadi media “menjual” Indonesia secara mumpuni. Yohanes Surya berhasil membuat Indonesia tak lagi dipandang sebelah mata.

Tahun 2010 Yohanes Surya mendirikan STKIP (Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan) Surya. Melalui STKIP, ia ingin mencetak guru-guru yang berkualitas, mampu mengajar ala Gasing, dan mampu mengajar sampai level olimpiade internasional. Tak elok rasanya jika hanya berkeluh kesah, ia pun berpeluh sendiri dengan mendirikan STKIP Surya. Mahasiswa yang diterima memiliki syarat khusus, yakni berasal dari kampung, bukan dari kota, terutama dari pedalaman. Hal ini agar mereka bisa kembali ke daerahnya, menjadi guru dan membangun daerah asalnya, setelah mengenyam pendidikan di STKIP Surya. Untuk lebih konsentrasi pada STKIP Surya dan persiapan pendirian Surya University, yang fokus pada pendidikan, energi, dan ilmu hayati, mulai Januari tahun 2011 Yohanes Surya tidak menjabat lagi sebagai rektor UMN. Saat ini STKIP Surya sudah menjadi universitas dengan nama Surya University. Surya University merupakan universitas berbasis riset. Sejak pertama masuk, mahasiswa sudah diberikan pilihan ingin melakukan riset apapun. Misalnya anak yang masuk jurusan agribisnis, diijinkan memilih riset desain website. Di sini, pendidiknya adalah orang-orang Indonesia yang telah dipilihnya. Yohanes menarik mereka dengan mengatakan bahwa ia memiliki visi membangun Indonesia 2030 dengan menghasilkan 100 ribu sarjana yang mampu melakukan riset untuk membangun Indonesia. Sehingga pada 2045, Indonesia bisa menjadi negara super power di dunia.

Dalam disertasinya yang berjudul Sederhana Ke Kompleks, ia mengatakan sistem-sistem kompleks yang ada di alam semesta ini mempunyai aturan-aturan sederhana. Oleh sebab itu tugas ilmu pengetahuan sekarang adalah mencari aturan-aturan sederhana ini sehingga dapat dilakukan prediksi dan dapat memanfaatkan hasil prediksi tersebut untuk kebaikan umat manusia. "Jika kita melihat suatu masalah atau keadaan sedemikian kompleksnya, ini bukan berati masalah itu tidak terpecahkan, tetapi karena kita belum menemukan pola atau aturan sederhana yang menyebabkan sistem kompleks ini terjadi," ujar suami dari Christina ini.

Yohanes Surya adalah fisikawan yang merakyat. Ia terus berusaha mendekatkan fisika dengan kehidupan rakyat. Ketika orang berfikir, bahwa fisika adalah sesuatu yang rumit, sulit, dan hanya untuk kalangan elit, Yohanes Surya menepisnya. Ia berusaha menyederhanakannya dan membuat Fisika sebagai bagian yang tak terasingkan dari tengah kehidupan rakyat.

Read More......
Template by - Abdul Munir | Daya Earth Blogger Template